"Jangan sampai menggunakan alasan trauma untuk membenarkan kelakuan kita yang kita yakini salah". Ini bener banget sih, menerima kenyataan bahwa trauma bisa mempengaruhi kita akan kemungkinan memiliki perilaku yang toxic bisa terasa berat. Tapi sebagai manusia dewasa menurutku memberi ruang memvalidasi trauma itu valid tapi tidak membenarkan perilaku salah tsb akibat trauma itu ; terkadang perlu di cek lagi apakah perilaku salah ini akan berdampak toxic ke diri sendiri dan orang lain juga. Sehingga, kita bisa menjadi manusia dewasa yg lebih bertanggung jawab atas perilaku diri kita sendiri.
10:58 Aku sampai berujar ke ibuku, sepertinya keluarga kami butuh peran seorang psikolog keluarga deh. Untuk menjembatani ego tiap² anggota keluarga. 18:11 Kaĺau aku menyadari kekurangan ortu kita adalah sebab akibat masa kecilnya dulu juga inner child diperlakukan begitu oleh orang tuanya. Jadinya memaklumi dan tak perlu proses memaafkan. Karena mereka tidak salah, malah berasa kasihan karena mereka adalah korban toxicnya ortunya juga. Jadi lebih persuasif mengubah pelan-pelan karakternya yang kalau bokap ini NPD. Wah gimana cobak menghadapi orang narsis yang judgemental? Ya pakai taichi komunikasi, seolah sepakat dengan argumennya padahal kita ajukan argumen yang lebih lembut dan pelan-pelan membelokkannya.
Kalau yang memaafkan diri sendiri, dalam istilahku lebih ke menerima diri sendiri yang dulu. Kayak menerima apa yang dulu pernah kita perbuat atau alami😂
Berubah itu kayanya memang tergantung perspektif/ekspetasi orang-orang disekitar yang melihat kita. Misalnya kita berubah menjadi x, ternyata orang lain ga suka dan bakalan ngomong: kok lu berubah sih, ga kaya dulu lagi? dulu lu a,b,c,d sekarang lu jadi x,y,z. Dan bisa jadi orang lain lagi yang berbeda, ngelihat kita berubah jadi x dan ngomong: gila ya, lu sekarang udah berubah banget dari yang dulu, gue amaze, ga nyangka. Padahal sama-sama berubahnya, tapi jadi ada 2 perspektif dari orang lain atas perubahan yang kita lakukan, antara orang tersebut jadi seneng atau malah ngga seneng. Dan menurut gue ujung2nya perubahan bisa jadi bagus ketika perubahan itu akhirnya menguntungkan atau menyenangkan ekspetasi orang lain itu.
Bisa, orangnya sendiri mungkin gak mau, dia nya mungkin justru maksa semua orang harus terima dia. Yg diubah jelas yg negatifnya dong masak yg positif keubah sama negatif integer kan logikanya jadi kebalik
"Jangan sampai menggunakan alasan trauma untuk membenarkan kelakuan kita yang kita yakini salah". Ini bener banget sih, menerima kenyataan bahwa trauma bisa mempengaruhi kita akan kemungkinan memiliki perilaku yang toxic bisa terasa berat. Tapi sebagai manusia dewasa menurutku memberi ruang memvalidasi trauma itu valid tapi tidak membenarkan perilaku salah tsb akibat trauma itu ; terkadang perlu di cek lagi apakah perilaku salah ini akan berdampak toxic ke diri sendiri dan orang lain juga. Sehingga, kita bisa menjadi manusia dewasa yg lebih bertanggung jawab atas perilaku diri kita sendiri.
10:58 Aku sampai berujar ke ibuku, sepertinya keluarga kami butuh peran seorang psikolog keluarga deh. Untuk menjembatani ego tiap² anggota keluarga.
18:11 Kaĺau aku menyadari kekurangan ortu kita adalah sebab akibat masa kecilnya dulu juga inner child diperlakukan begitu oleh orang tuanya. Jadinya memaklumi dan tak perlu proses memaafkan. Karena mereka tidak salah, malah berasa kasihan karena mereka adalah korban toxicnya ortunya juga. Jadi lebih persuasif mengubah pelan-pelan karakternya yang kalau bokap ini NPD. Wah gimana cobak menghadapi orang narsis yang judgemental? Ya pakai taichi komunikasi, seolah sepakat dengan argumennya padahal kita ajukan argumen yang lebih lembut dan pelan-pelan membelokkannya.
people don't change, they just adapt.
topik yang seruuuu 🔥
seru bgt dengernya !!!❤
Topiknya menarik kak terima kasih karena sudah di bahas
Ditunggu Cii, Koo episode berikutnyaaa
Yaaa ampun, relate bangeetttt :(((( lagi bingungg bangetttt
Ini sih pembahasan yang paling aku butuhkan. Thankyouu ❤️❤️❤️
Kalau yang memaafkan diri sendiri, dalam istilahku lebih ke menerima diri sendiri yang dulu. Kayak menerima apa yang dulu pernah kita perbuat atau alami😂
Thank you Stef dan Harry podcast nya (y)
🎉
❤❤❤❤❤
Berubah itu kayanya memang tergantung perspektif/ekspetasi orang-orang disekitar yang melihat kita.
Misalnya kita berubah menjadi x, ternyata orang lain ga suka dan bakalan ngomong: kok lu berubah sih, ga kaya dulu lagi? dulu lu a,b,c,d sekarang lu jadi x,y,z.
Dan bisa jadi orang lain lagi yang berbeda, ngelihat kita berubah jadi x dan ngomong: gila ya, lu sekarang udah berubah banget dari yang dulu, gue amaze, ga nyangka.
Padahal sama-sama berubahnya, tapi jadi ada 2 perspektif dari orang lain atas perubahan yang kita lakukan, antara orang tersebut jadi seneng atau malah ngga seneng.
Dan menurut gue ujung2nya perubahan bisa jadi bagus ketika perubahan itu akhirnya menguntungkan atau menyenangkan ekspetasi orang lain itu.
Yess bener banget. Karena kita berubah sebenarnya untuk diri sendiri, bukan untuk menyenangkan orang lain
Bisa, orangnya sendiri mungkin gak mau, dia nya mungkin justru maksa semua orang harus terima dia. Yg diubah jelas yg negatifnya dong masak yg positif keubah sama negatif integer kan logikanya jadi kebalik
Kareseup
cik siapa nama jelasnya researcher yang suka cek fakta.. minta tolongi tulisan di coment. makasih cik
Lucinda Beaman